~~~PERHATIAN!!! ANDA MEMASUKI KAWASAN ANTI DEMOCRAZY~~~

Senin, 22 Agustus 2011

Puasa tak mempengaruhi kualitas ASI


BANJARMASIN (Arrahmah.com) – Banyak ibu-ibu yang menyusui anaknya memilih tidak puasa dengan alasan demi si buah hati, pasalnya adanya kekhawatiran bahwa produksi ASI mereka akan berkurang. Padahal kekhawatiran tersebut tidaklah benar.

Menurut ahli gizi dari Kota Banjarmasin, Maya Midiyatie Afridha, saat berpuasa, ASI yang dihasilkan ibu menyusui tidak akan berubah dan berkurang kualitasnya karena saat berpuasa tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi.

Maya menjelaskan bahwa produksi ASI akan diambil dari zat gizi, yaitu energi, lemak, protein, vitamin dan mineral dari tubuh sang ibu. Penggantian zat-zat tersebut akan terjadi pada saat berbuka sehingga ibu menyusui akan tetap sehat.

Meskipun demikian Maya mengungkapkan bahwa dengan perubahan jadwal makan, bukan berarti asupan makanan yang dikonsumsipun ikut berubah. Ibu menyusui harus tetap makan tiga kali sehari, saat sahur, berbuka dan setelah tarawih dan secara disiplin mengkonsumsi makanan dengan gizi berimbang, yaitu dengan komposisi 60% karbohidrat, 15-20% protein dan 20- 25% lemak.

“Perlu diperhatikan, ibu yang sedang menyusui memang membutuhkan tambahan sekitar 700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu,” jelasnya.

Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih.

Makan sahur akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak.

Tambahan sekitar 300-500 kalori setiap hari dapat diperoleh dengan cara minum teh manis atau mengonsumsi makanan pembuka yang manis seperti semangkuk kolak pisang atau segelas es cendol yang bernilai 280-300 kalori.

Dengan begitu, kebutuhan kalori yang sangat penting bagi ibu menyusui tetap dapat terpenuhi. Maya juga menambahkan, Ibu menyusui sebaiknya banyak mengkonsumsi kurma mengingat manfaat kurma yang banyak untuk tubuh.

Jadi tak perlu khawatir bahwa buah hati akan kekurangan ‘ASI’ selama kita berpuasa. Asalakan ibu tetap memenuhi kebutuhan gizinya di waktu buka dan sahur, InsyaAllah puasa akan berjalanlancar dan masih tetap bisa menyusui tanpa halangan.

Dan yang paling utama dalh berdo’a pada Allah. Karena segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah. Jangan lupa berdoa agar puasa tetap dilancarkan dan kebutuhan ‘asupan gizi’ (baca: ASI) buah hati tetap terpenuhi. Semuanya tentu atas seizin Allah Ta’ala. Wallohua’lam (tbn/arrahmah.com)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Menutup Aurat Hanya Musiman


Jika melihat berbagai berita infotainment dari kalangan selebriti, kita akan jumpai para artis mulai sadar untuk tidak buka-bukaan aurat, contohnya di bulan suci yang sedang kita jalani ini yaitu bulan Ramadhan. Banyak diantara mereka yang mengatakan: “Saya mau berpakaian tidak ketat lagi ah…! di bulan suci”, kira-kira seperti itu penuturan sebagian artis. Ada juga yang mulai sadar bukan karena niatan ingin jadi baik, namun berhubung karena ada orderan sehingga ia pun harus berbusana religi (Relizi). Namun sayangnya, selepas itu semua, aurat pun kembali diumbar. Sungguh sayang seribu sayang, ibadah seakan-akan menjadi musiman saja.

Pada Rubrik Muslimah kita kali ini akan menyuguhkan pembahasan pada anda, Bahwasanya “Menutup Aurat Hanya Musiman”, benarkah seperti itu …?

Para Muslimah yang semoga dirahmati Alloh, perlu anda ketahui bahwa kewajiban berjilbab itu adalah setiap saat. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman, dalam surat Al-Ahzab ayat 54 yang artinya :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Suatu perkara yang dikatakan wajib, tentu saja bukan hanya dikenakan musiman. Sebagaimana halnya sholat, jika diperintahkan dan itu wajib, tentu saja diwajibkan setiap saat dan bukan hanya satu waktu. Renungkanlah ini semua!

Dan tahukah anda, bahwasanya tidak menutup aurat adalah suatu dosa yang besar.

Sebagaimana diterangkan oleh ayat Al-Qur’an, pada surat Al-Ahzab ayat 59 tersebut adalah, bahwa aurat wanita muslimah adalah seluruh tubuhnya. Lantas apa akibatnya jika yang ditampakkan adalah aurat yang ada pada diri mereka? Sebagaimana kita lihat, kelakukan sebagian wanita yang sudah lepas keindahan sifat malu pada diri mereka, mereka masih memamerkan rambut yang elok dan paha. Padahal telah Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian”. (HR Muslim no 2128)

Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata :

Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapati aromanya. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun”.

Kaum Muslimah yang semoga dirahmati oleh Alloh. Para ulama ketika menjelaskan apa yang dimaksud dengan wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka maksudkan adalah wanita yang menutup sebagian badannya, dan menampakkan sebagiannya. Artinya, wanita seperti ini auratnya terbuka. Contohnya saja adalah wanita yang berpakaian rok mini, atau menampakkan keelokan rambutnya. Ulama lainnya mengatakan bahwa maksud wanita berpakaian tetapi telanjang, adalah memakai pakaian yang tipis sehingga terlihat warna kulitnya.

Sungguh, sifat-sifat wanita semacam ini sudah banyak kita temukan di akhir zaman. Bahkan sungguh mereka tidak punya rasa malu lagi untuk menampakkan auratnya. Padahal perbuatan ini adalah dosa besar, karena di akhir-akhir hadits sampai diancam tidak akan mencium bau surga. Apalagi jika perbuatan ini dilakukan public figure, tentu saja ancamannya lebih parah karena perbuatannya dicontoh orang lain. Dan setiap perbuatan dosa yang dicontoh orang lain, tentu saja orang yang beri contoh akan menanggung dosanya pula. Alloh Ta’ala telah berfirman,

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ

Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. (QS Yasin : 12)

Maksud ayat ini adalah, Alloh Ta’ala akan mencatat setiap amalan yang dilakukan oleh seorang hamba, dan bekas-bekas dari amalannya yang berpengaruh pada yang lainnya. Artinya, jika amalan kebaikan yang ia diikuiti oleh orang lain, maka itu akan dicatat sebagai kebaikan baginya pula. Begitu pula yang terjadi jika kejelekan yang ia lakukan diikuti oleh orang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya, dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun” (H. Muslim no 1017)

Mungkin Berbagai alasan sering dikemukakan oleh para wanita yang masih enggan berjilbab. Salah satu alasan mereka diantaranya adalah :

Yang pentingkan hatinya dulu yang dihijabi

Alasan semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas sholat lantas mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang punya pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena Din dan Islam itu adalah perkataan dan amalan, yaitu perkataan hati, perkataan lisan, amalan hati, amalan lisan dan amalan anggota badan. Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.

Atau-pun ada yang mengatakan, Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing

Alasan seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa menggunjing (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin sholat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu bisa jadi. Sebagaimana ada kyai/ustadz pun yang suka menipu. Ini pun nyata terjadi.

Namun tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas kenapa ini jadi alasan untuk enggan berjilbab?. Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab secara umum. Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh mulia. Jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak menggunjing.

Atau ada yang mengatakan: Belum siap mengenakan jilbab

Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan nafsu jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang menunda-nunda amalan kebaikan.

Ingatlah …! kita belum tentu tahu jika besok shubuh kita masih diberi kehidupan. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa satu jam lagi, ia masih menghirup nafas. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti saja”.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memberi nasehat yang amat bagus :

Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu” .

Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi. Semoga hal ini menjadikan renungan, dan mudah-mudahan artikel kita kali ini bermanfa’at. Wallohu a’lam…..


fajrifm.com

Kamis, 23 Juni 2011

‘iffah: lambang kemuliaan seorang wanita


Segala puji bagi Allah Ta’ala, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad.

Akhwatifillah… Di masa sekarang ini, di saat kejahiliahan kembali merata di seluruh penjuru dunia, upaya penjagaan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan, kesia-siaan, dan kerendahan harus lebih ditekankan. Terlebih lagi bagi seorang muslimah yang kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. ‘Iffah adalah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan penjagaan diri ini. Lalu apa sebenarnya ‘iffah itu?

Pengertian ‘Iffah

Wahai muslimah… Menurut bahasa, ‘iffah artinya adalah menahan. Sedangkan menurut istilah, ‘iffah adalah menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah.

Jadi, ‘afifah (sebutan bagi muslimah yang ‘iffah) adalah muslimah yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya menginginkannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33).

Wanita yang ‘afifah

Saudariku… ‘Iffah adalah akhlaq yang tinggi, mulia, dan dicintai oleh Allah Ta’ala. Bahkan akhlaq ini merupakan sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang shalih, yang senantiasa memuji keagungan Allah Ta’ala, takut akan siksa, adzab, dan murka-Nya, serta selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.

Ada beberapa hal yang dapat menumbuhkan akhlaq ‘iffah dan perlu dilakukan oleh seorang muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya, di antaranya adalah:

1. Ketaqwaan kepada Allah Ta’ala

Taqwa adalah asas paling fundamental dalam mengusahakan ‘iffah pada diri seseorang. Ketaqwaan adalah pengekang seseorang dari perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah Ta’ala, sehingga ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat seseuatu, baik di saat sendirian maupun dalam keramaian.

Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita shalihah adalah karena kemampuannya dalam menjaga martabatnya (‘Iffah) dengan hijab serta iman dan taqwa. Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri kokoh jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan ‘iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan taqwa sebagai pondasi dasar untuk meraih kemuliaan-kemuliaan lain.

Segala anggota tubuh akan selalu terjaga jangan sampai melanggar larangan Allah Ta’ala sehingga terjerumus ke dalam kesesatan. Mulutnya terjaga dari pembicaraan yang sia-sia, ghibah, fitnah, adu domba, dusta, mengumpat , mencela, dan lain-lain. Tangannya pun akan terjaga dari hal yang dilarang seperti mencuri, bersentuhan dengan orang yang bukan mahramnya, dan lain-lain. Mata pun demikian, tak ingin terjerumus dalam mengumbar pandangan yang diharamkan.

Sungguh ketika taqwa berdiam pada diri seseorang, maka muncullah pribadi yang penuh dengan hiasan yang tak tertandingi keindahannya. Mengalahkan emas, perak, berlian, dan hiasan dunia lainnya.

2. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan

Saudariku muslimah….

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…’ ” (An-Nur: 31)

Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari perbuatan zina, liwath (homoseksual), dan lesbian, serta menjaganya dengan tidak menampakkan dan menyingkapnya di hadapan manusia.” (Adhwa-ul Bayan, 6/186)

3. Tidak bepergian jauh (safar) sendirian tanpa didampingi mahramnya

Seorang wanita tidak boleh bepergian jauh tanpa didampingi mahramnya yang akan menjaga dan melindunginya dari gangguan. Rasulullah j bersabda: “Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya

Bersentuhan dengan lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan membuat hati condong kepada perbuatan yang keji dan hina. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: “Secara mutlak tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sama saja apakah wanita itu masih muda atau sudah tua. Dan sama saja apakah laki-laki yang berjabat tangan dengannya itu masih muda atau kakek tua. Karena berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua pihak.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata tentang Rasulullah j: “Tangan Rasulullah j tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak beliau).” (HR. Al-Bukhari)

“Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang dilakukan dengan memakai alas atau penghalang (kaos tangan atau kain) maupun tanpa penghalang. Karena dalil dalam masalah ini bersifat umum dan semua ini dalam rangka menutup jalan yang mengantarkan kepada fitnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, I/185)

5. Tidak khalwat (berduaan) dengan laki-laki yang bukan mahram

Rasulullah j telah memerintahkan dalam sabdanya: “Tidak boleh sama sekali seorang lak-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama wanita itu ada mahramnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Nikah

Nikah adalah salah satu jalan terbaik untuk menjaga kesucian diri. Bahkan nikah adalah sarana utama untuk menumbuhkan sifat ‘iffah. Dengan menikah, seorang muslimah akan terjaga pandangan mata dan kehormatan dirinya. Nikah adalah fitrah kemanusiaan yang di dalamnya terdapat rasa cinta, kasih sayang, dan kedamaian yang tidak didapatkan dengan cara lain, seperi firman Allah Ta’ala: “Dan di antara tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (Ar-Rum: 21)

7. Rasa Malu

Malu adalah sifat yang agung dan terpuji. Dengan rasa malu, seseorang akan terhindar dari perbuatan keji, tidak pantas, mengandung dosa dan kemaksiatan. Rasa malu akan bertambah indah jika melekat pada diri seorang muslimah. Dengan malu, seorang muslimah akan selalu nampak dalam fitrah kewanitaannya, tak mau mengumbar aurat tubuhnya, tak mau mengeraskan suara yang tak diperlukan di tengah kumpulan manusia, tidak tertawa lepas, dan lain-lain.

Rasa malu ini benar-benar akan menjadi penjaga yang baik bagi seorang muslimah. Ia akan menyedikitkan beraktivitas di luar rumah yang tanpa manfaat. Ia akan menjaga diri ketika berbicara dengan orang lain, terlebih laki-laki yang bukan mahram. Tentu hal ini akan lebih menjaga kehormatannya.

8. Menjauh dari hal-hal yang mengundang fitnah

Seorang muslimah yang cerdas haruslah memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan menyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari mendengarkan musik, nyanyian, menonton film dan gambar yang mengumbar aurat, membeli majalah-majalah yang merusak dan tidak berfaedah, dan lain-lain. Ia juga tidak akan membuang hartanya untuk merobek kehormatan dirinya dan menghilangkan ‘iffah-nya. Karena kehormatan serta ‘iffah adalah sesuatu yang mahal dan sangat berharga.

Sebuah Penutup

Wahai ukhti muslimah… ‘Iffah adalah pondasi kemuliaan bagi seorang wanita shalihah. Sungguh mulia wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah Ta’ala akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan oleh Rasulullah j dalam sabdanya: “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim) Jika ingin mendapatkan kemuliaan sebagai wanita shalihah, maka sesungguhnya kemuliaan itu hanya dapat diraih ketika ia memiliki kemampuan untuk menjaga martabatnya dengan iman, menerima semua karunia yang Allah Ta’ala berikan, menghijab dirinya dari kemaksiatan, menghiasi semua aktivitasnya dengan ibadah, dan memberikan yang terbaik bagi sesamanya. Seorang wanita yang mampu melakukan semua itu akan mulia di sisi Allah Ta’ala dan terhormat di hadapan manusia. Memang usaha yang dilakukan untuk meraih ‘iffah bukanlah hal yang ringan. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dan keistiqamahan yang stabil dengan meminta kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
Wallahu Ta’ala a’lam bish-showab

Jumat, 24 Desember 2010

Cuek…? No way !!!


Sobat tersayang, kalau kita boleh jujur,

rasanya tiap hari dech kita itu diajarin oleh lingkungan kita untuk bersikap cuek. Dalam lingkup kehidupan yang serba matrealistis ini,

ditengah persaingan kehidupan yang begitu berat,

ditambah dengan tuntutan kehidupan yang semakin meningkat,

seringkali kita dihadapkan pada sebuah kondisi kehidupan yang mengajak kita untuk bersikap Individualis dan semakin individualis.

Engga peduli dengan orang lain, yang penting kita sendiri masih bisa Survive.

Yang penting kita selamet,

tidak dirampok orang,

yang penting kita bisa makan,

yang penting kita bisa sekolah, kuliah,

tidur, belajar dengan aman dan nyaman……

”Peduli amat dengan orang lain.

Mereka mau engga bisa atau engga mau sekolah kek…..

Mereka mau tawuran kek,

mau trek trekan ke….

Mau terbius narkoba,

mau ngejual diri jadi ABG komersial kek….

Peduli amat, yang penting kan gue engga begitu.

“Jangan Sok peduli dengan orang lain !! Hidup ini susah Bung,

kalau bukan kita yang menggilas …. Kita bakal jadi yang tergilas.

Jangankan mau mikirin hidup orang lain,

mikirin hidup sendiri aja susah !

“Begitulah komentar yang sering kita dengar

dalam keseharian hidup kita yang rasanya semakin keras ini.

Maka, walhasil…

jadilah kita sebagai sosok sosok genrasi muda yang individualis.

Kita akan tetep merasa adem ayem aja,

selama kita masih bisa makan.

Kita akan merasa aman aja,

selama bukan kita yang kena kompas orang.

Kita pun akan tenang aj,

asal bukan adik kita yang lagi sakauw kena putauw yach

…begitulah…

Masalahnya sekarang,

kita ini bukan orang sembarang.

Masih inget kan kalau kita ini seorang muslim ?!

Dan tentu masih inget juga kan,

kalau seroang muslim itu pasti memiliki sikap hidup dan gaya hidup yang khas.

Yang sesuai dengan apa yang diajarkan islam.

Yang dengannya,

kehidupan seorang muslim itu penuh kebahagiaan dan penuh kehormatan.

Nah sobat tersayang ternyata Rasululllah SAW, sang panutan dan teladan kita pernah bersabda :

“ Barang siapa yang bangun tidur di suatu pagi hari dan ia hanya memikirkan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa disisi Allah: dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka (kaum muslimin).

(HR. Thabrani dari Abu Dzar Al Ghifari )

Dari hadist tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya

betapa Rasul menunjukan kepada kita,

bahwa kalau kita dipagi hari ketika kita bangun dari tidur kita,

menyambut hari baru kita denga setumpuk pikiran

tentang urusan pribadi kita doank, macam…

‘ntar gue sarapan apa ya,

‘ntar gue bisa lolos dari hukuman guru engga ya…

abis PR belum juga selesai,

“wah enaknya ntar ultah gue mau minta hadiah apa ya.

Dan beragam persoalan persoalan hanya seputar kehidupan

dunia pribadi kita dan keluarga kita saja.

Tanpa terbesit sedikit pun dalam benak kita pikiran,

perasaan, kegalauan, keprihatinan dan kesedihan melihat kondisi umat islam

yang semakin hari semakin menyayat hati.

Engga pernah terbesit keingintahuan kita tentang…

gimana ya saudara saya di Palestina mau sekolah kalau setiap hari kepala mereka siap dibidik ama keparat yahudi.. ?

gimana ya kelanjutan nasib para pengungsi tragedi ambon,

poso waktu itu dan masih sampai saat ini..?

gimana ya kelanjutan para TKI Indonesia yang ada di Malaysia.

Mengapa pula saat ini temen temen gue lebih tergila gila sama segala hal yg berbau barat sementara phobia banged sama islam.

Maka kata Rasul,,,,

kita itu sebenarnya tidak berguna apa apa di sisi Allah,

bahkan kalau kita memang cuek bebek aja dengan urusan kaum muslimin tersebut, EGP aj gtu. Maka kata Rasul bukanlah termasuk dalam golongan kaum muslimin.

Ngeri nggak tuch ?!

Makanya,

dari sini kita bisa mengerti bahwa sebagai seorang muslim

kita telah di ajari oleh islam untuk tidak pernah boleh bersikap egois

dan hanya mikirin diri sendiri aj.

Lebih jauh islam,

Senantiasa mendidik kita untuk senantiasa peduli dengan sekitar kita.

Sebagai seorang muslim kita diajarin untuk ngerti bahwa apa pun yg terjadi

dan menimpa umat ini, itu merupakan juga urusan kita.

Karena sekecil apapun kejadian yang menimpa masyarakat kita,

hal itu juga mesti berpengaruh pada kehidupan kita.

Jadi sobat emang ga ada pilihan lain, kita mesti peduli !!

Termasuk dalam bentuk kepedulian ini,

adalah ikut terusiknya kita ketika melihat dan mendengar cerita menyedihkan tentang kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Apakah itu dari palestina,

yang saat ini harus menghadapi upaya pembantaian secara sadis dari orang orang yahudi Israel,

Irak yang sekarang dalam serangan AS lagi,

Afghanistan yang sudah dihancur leburkan AS atas nama perang terhadap teroris, turki yang dulunya jadi pusat pemerintahan islam malah jadi pangkalan militer AS yang membantu melakukan penyerangan ke negri negri yang lain,

peduli juga dengan kondisi ekonomi kita yang tidak juga bangkit,

peduli dengan nasib saudara kita ambon yang terusir dari rumah dan keluarganya yang beragam umat yang lain.

Karena sesungguhnya apa yang menimpa mereka,

pada hakikatnya adalah juga merupakan serangan bagi kita semua.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang orang yang beriman (mukmin) itu adalah bersaudara.” (Terj. Qs. Al Hujurat :10)

Rasulullah Saw, bersabda :

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.”

Jadi sikap cuek itu buang aja deh ke keranjang sampah, tutup rapat rapat biar dia membusuk dan dia terurai. Karena islam tidak mengajarkan sikap cuek. Ok ^_^

like dong di fb

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Wassalam Wr. Wb...