~~~PERHATIAN!!! ANDA MEMASUKI KAWASAN ANTI DEMOCRAZY~~~
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2012

LANGKAH-LANGKAH SETAN MENELANJANGI WANITA

Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan. Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.

I. Menghilangkan Definisi Hijab

Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar'i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.

Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.

Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar'i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar'i tetap dipertahankan.

Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bagian Tangan

Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisik kan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). "Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihat nya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik, "Tuh tidak apa-apa kan?"

Kedua, Membuka Leher dan Dada

Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. "Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu." Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.

Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf "V" yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang

Setan berbisik lagi, "Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. "Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang," setan memberi ide baru.

Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. "Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin," begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat 'ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit

Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, "Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?" Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik."

Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. "Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy," katanya.

Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar'i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.

II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit

Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampakkan bagian aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit.

Setan Berbisik kepada para wanita, "Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki." Ini baru agak longgar. "Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab."

Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis

Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, "Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja." Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis."

Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia mema-kai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis

Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, "Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya."

Tetapi… apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki," gumamnya. "Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman."

Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

III. Serba Mini

Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. "Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah."

Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.

Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.

Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan "bikini". Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na'udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, "Menelanjangi Kaum Wanita." Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu" Setan tak mau ambil resiko.

Penutup

Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.

Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a'lam bis shawab.

ilustrasi iblis.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Adab Pergaulan di Dunia Maya


Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu.

Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
[Berakhir nukilan dari http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/ ]

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala
mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

"Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita." (HR. Bukhari no. 5184)
Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.


Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)
Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
Kedua, selalu menutup aurat
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)
Ketiga, saling menundukkan pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)
Keempat, tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Kelima, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Keenam, tidak melembutkan suara di hadapan lawan jenis
Allah Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa.Maka janganlah kamu melembutkan pembicaraan sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32). Perintah ini berlaku bukan hanya untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga berlaku untuk wanita muslimah lainnya.


Lalu bagaimana dengan adab chatting dengan lawan jenis? Hal ini dapat pula kita samakan dengan telepon, SMS, pertemanan di friendster dan pertemanan di facebook

Jawabnya adalah sama atau hampir sama dengan adab-adab di atas.
Pertama, jauhilah segala sarana menuju zina melalui pandangan, sentuhan dan berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.
Kedua, tutuplah aurat di hadapan bukan mahrom.
Sehingga seorang muslimah tidak menampakkan perhiasan yang sebenarnya hanya boleh ditampakkan di hadapan suami. Contoh yang tidak beradab seperti ini adalah berbusana tanpa jilbab atau bahkan dengan busana yang hakekatnya telanjang. Inilah yang banyak kita saksikan di beberapa foto profil di FB atau friendster. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.
Ketiga, tundukkanlah pandangan.
Bagaimana mungkin bisa saling menundukkan pandangan jika masing-masing orang memajang foto di hadapan lawan jenisnya? Wanita memamerkan fotonya di hadapan pria. Mungkinkah di sini bisa saling menundukkan pandangan? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika foto profil kita bukanlah foto kita, namun dengan foto yang lain yang bukan gambar makhluk bernyawa. Tujuannya adalah agar foto wanita tidak membuat fitnah (godaan) bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya. Di antara bentuk menundukkan pandangan adalah janganlah menggunakan webcamp selain dengan sesama jenis saja ketika ingin melakukan obrolan di dunia maya.
Keempat, hati-hatilah dengan berdua-duaan bersama lawan jenis yang bukan mahrom.
Jika seorang pria dan wanita melakukan pembicaraan via chatting, telepon atau sms –tanpa ada hajat (keperluan)-, itu sebenarnya adalah semi kholwat (semi berdua-duaan). Apalagi jika di dalamnya disertai dengan kata-kata mesra dan penuh godaan sehingga membangkitkan nafsu birahi. Dan jika memang ada pembicaraan yang dirasa perlu antara pria dan wanita yang bukan mahrom, maka itu hanya seperlunya saja dan sesuai kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan lagi, maka pembicaraan tersebut seharusnya dijauhi agar tidak terjadi sesuatu yang bisa menjurus pada yang haram.
Kelima, janganlah melembutkan atau mendayu-dayukan suara atau kata-kata di hadapan lawan jenis.
Penyimpangan dalam adab terakhir ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti “sayang”, dsb.
Jika setiap muslim mengindahkan adab-adab di atas, maka tentu saja dia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan tidak akan mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas dengan izin Allah.

Kami ingatkan pula bahwa tulisan ini bukanlah hanya kami tujukan kepada kaum hawa saja, namun kami juga tujukan pada para pria agar mereka juga memperhatikan adab-adab di atas. Jadi janganlah tulisan ini dijadikan sebagai sarana untuk memojokkan wanita atau para istri, namun hendaklah dijadikan nasehat untuk bersama.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sifat ketakwaan, memberi kita petunjuk dan kecukupan. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita dari hal-hal yang haram dan mendatangkan murka Allah. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa shallallahu wa sallamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahir rabbil ‘alamin.

***
Panggang, Gunung Kidul, 10 Sya’ban 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Selasa, 19 Oktober 2010

JILBAB


Jilbab Bukan Simbol, Tapi Suatu Kewajiban

Tanggal 17 Desember 2003 Presiden Prancis Jacques Chirac menyampaikan pidato yang isinya menyetujui rancangan undang-undang yang melarang simbol-simbol keagamaan, termasuk –secara ekspilisit dia sebutkan—hijab atau jilbab, atas dasar sekularisme yang dianut Perancis. Tentu larangan ini mengusik rasa keberagamaan kita sebagai kaum muslimin. Bagaimana sebenarnya kedudukan jilbab dalam agama Islam, benarkah sekedar sebuah simbol? Tulisan ini akan menguraikannya.

Hukum Jilbab
Dalam pembahasan syariat Islam dipahami adanya hukum-hukum yang bersifat tauqifiyah, yang artinya sebuah ketentuan Allah tentang sebuah hukum yang status hukumnya tetap, tidak berubah, tidak dikaitkan dengan ‘illat (sebab disyariatkannya suatu hukum). Misalnya, wajibnya shalat lima waktu bukanlah dikarenakan adanya sebab untuk mendisiplinkan umat Islam yang konsekuensinya manakala umat Islam telah disiplin maka hukum sholat lima waktu tidak wajib lagi. Atau wajibnya puasa Ramadhan bukanlah dalam rangka menjaga kesehatan kaum muslimin, sehingga konsekuensinya kalau kondisi kesehatan kaum muslimin telah baik sekali lalu kewajiban puasa itu menjadi gugur. Hal ini berlaku pada perkara-perkara status hukum ibadah, makanan, minuman, akhlaq dan pakaian. Islam mewajibkan perempuan muslimah manakala keluar rumah memakai jilbab dan kerudung (khimar) tanpa ilat atau alasan hukum tertentu yang apabila alasan itu tidak ada kewajibannya menjadi hilang.
Dalil-dalil yang menjelaskan tentang adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum adalah QS 24: 31 dan QS 33: 59. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat itu dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Keduanya wajib dikenakan oleh wanita dalam kehidupan umum. Mengenai pakaian wanita bagian atas, Allah berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS. AN Nuur 31).

Maksudnya, hendaknya para wanita menghamparkan kain penutup kepala, leher dan dadanya (sebatas 3 lubang kancing untuk dapat memasukkan baju ke kepalanya).

Mengenai pakaian wanita bagian bawah, Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.(QS. AL Ahzaab 59).

Maksudnya, hendaknya para wanita mengulurkan pakaian yang dikenakan pada bagian luar pakaian kesehariannya jika mereka hendak keluar rumah. Pakaian tersebut (baca: jilbab) berupa kain panjang (milhafah) atau semacam selimut (mula’ah) yang diulurkan sampai ke bawah. Tentang cara mengenakan pakaian luar tersebut, Allah berfirman:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak pada dirinya.”

Maksudnya, janganlah mereka menampakkan tempat perhiasan dan anggota tubuh mereka seperti dua telinga, dua lengan, dua betis kaki, dua mata kaki, dll, kecuali apa yang biasa tampak pada diri mereka di dalam kehidupan umum. Ketika ayat ini turun, yakni pada jaman Rasulullah saw, yang biasa tampak pada diri wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan.
Ummu ‘Athiyah berkata:
“Rasulullah saw telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik wanita tua, yang sedang haid, maupun perawan. Wanita yang sedang haid menjauh darikerumunan orang yang shalat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah saw, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab. “Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.”
Dari hadits ini ada 2 point pemahaman yang dapat kita ambil. Pertama, semua muslimah disunnahkan untuk menghadiri sholat idhul adha, tetapi harus memakai jilbab. Ditegaskan bahwa jika ada yang tidak memiliki jilbab, maka temannya harus meminjamkannya. Berarti jilbab itu wajib dipakai ketika keluar rumah.
Kedua, hadits di atas menyiratkan tentang jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan wanita diatas pakaian kesehariannya (yang biasa digunakan di dalam rumah). Karena ketika ummu Athiyah bertanya tentang seseorang yang tidak memiliki jilbab, tentu wanita tersebut bukan dalam keadaan telanjang, melainkan dalam keadaan memakai pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah yang tidak boleh dipakai untuk keluar rumah. Dan wanita yang tidak mempunyai jilbab harus meminjam kepada saudaranya. Jika saudaranya tidak bisa meminjamkannya, maka yang bersangkutan tidak boleh keluar rumah.
Jadi hadits yang dituturkan oleh Ummu ‘Athiyyah menerangkan secara tegas tentang kewajiban wanita untuk mengenakan pakaian luar (jilbab) di atas pakaian kesehariannya ketika hendak keluar rumah. Dari ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa kewajiban berjilbab keluar rumah adalah bagi wanita muslimah yang telah aqil baligh. Aqil artinya ber akal, waras, atau tidak gila. Sedangkan baligh artinya dia telah menstruasi.

Syariat Jilbab Menjaga Kehormatan

Dari Qs. Al Ahzab 59 di atas dapat kita ketahui adalah bahwa hikmah mengenakan jilbab adalah supaya lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Pada waktu itu orang-orang fasik berani menggoda para budak wanita (amah) yang berjalan di malam hari di jalan-jalan untuk membuang hajat atau memenuhi kebutuhan lainnya. Orang fasik tidak berani mengganggu wanita muslimah. Sebab pelecehan terhadap wanita muslimah akan menerima hukuman yang besar, lebih-lebih mereka mengetahui bagaimana tindakan tegas Rasulullah saw. terhadap Bani Nadlir yang melecehkan wanita muslimah di pasar Yahudi. Dan dengan identitas wanita muslimah seperti itu, maka segala gangguan dan pelecehan terhadap mereka pada hakikatnya adalah pelanggaran terhadap kehormatan kaum muslimin secara keseluruhan.
Nyatalah bahwa Islam memandang wanita sebagai suatu kehormatan yang wajib dijaga dan dipelihara. Islam mensyariatkan pakaian jilbab dan khimar adalah untuk menjaga dan memelihara kehormatan itu. Nabi saw. bersabda: “Wanita itu adalah aurat”. Berarti badan wanita itu harus ditutupi sebagai aurat yang merupakan kehormatan baginya. Jika aurat itu dilihat orang yang tidak berhak, maka wanita itu dilecehkan kehormatannya. Maka para wanita yang tidak memakai pakaian syar’I (legal) di depan umum, yakni jilbab dan kerudung, berarti dia menyia-nyiakan payung hukum baginya, yakni menjaga kehormatannya sendiri dengan menutup auratnya dengan mengenakan pakaian khusus pada saat keluar rumah. Wanita yang mengobral auratnya sesungguhnya telah menjatuhkan martabat dan kehormatannya sendiri. Ini tidak diperkenankan dan pelakukanya bisa dikenakan hukuman ta’zir (hukuman untuk mendidik) oleh negara. Dalam sistem peradilan Islam hakim(qadli), misalnya bisa menjatuhkan hukuman jilid pada wanita yang keluar rumah dengan tanpa mengenakan jilbab dan kerudung dan jika mengulangi lagi wanikta akan diasingkan selama 6 bulan (lihat Abdurrahman Al Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, hal 289).


Khatimah
Sebagian orang yang kurang mengerti agama Islam mengatakan bahwa jilbab itu bukan pakaian yang wajib dikenakan seorang muslimah, yang penting justru pakaian taqwa. Ini kira-kira sama dengan orang yang mengatakan sholat itu tidak penting, yang penting “eling”, ingat kepada Allah atau dia mengatakan shaum itu tidak penting, yang taqwa. Padahal orang yang taqwa dan ingat kepada Allah SWT Sang Pembuat Syariat ini tentu diakan dengan tulus ikhlas melaksanakan shalat dan puasa, sebagaimana seorang muslimah yang beriman dan taat kepada-Nya akan dengan ikhlas dan hati lapang mengenakan kerudung dan jilbabnya. Sebab jilbab itu bukan simbol untuk dipamerkan, tapi suatu kewajiban syariat yang mesti dijalankan dengan dasar taqwa dan keikhlasan demi mencapai ridlo-Nya. Wallahua’lam bisshowab!

BERANI DAN PERCAYA DIRI


Iman yang benar dalam dada seorang muslim akan menghasilkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa. Sebab, seorang muslim, setelah mengetahui dan memahami firman Allah SWT :
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(QS. At Taubah 51).
Dia akan beriman bahwa apa yang ditetapkan oleh Allah SWT niscaya akan menimpanya, yang baik maupun yang buruk. Sehingga dia akan menceburkan diri dalam medan kehidupan bahkan medan perang sekalipun dengan penuh keberanian. Dia tidak gentar pada apapun dan siapapun, selain kepada Allah SWT. Terlebih lagi jika seorang muslim mengerti dan memahami sabda Rasulullah saw:
“Tidaklah mati seseorang sampai dipenuhi ajalnya, rizki, dan apa yang ditakdirkan baginya”.
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya tentang Surat At Taubah ayat 51 tersebut sebagai berikut: dikatakan bahwa ketetapan Allah SWT itu ada di Lauhul Mahfuzh. Juga dikatakan bahwa apa yang Allah kabarkan kepada kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh) , baik itu kita bakal mendapatkan kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal terbunuh, dan mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Pada segala sesuatu pasti ada ketentuan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelasakan bahwa dalam ayat ini Allah SWT memberi petunjuk tentang cara menjawab pernyataan musuh-musuh kaum muslimin. Katakanlah kepada mereka: “Tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang Allah tetapkan buat kami. Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah. Dialah pemimpin dan pelindung kami. Dan kami pasrah diri kepada-Nya. Cukuplah Dia menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung”.
Keyakinan tentang takdir Allah SWT dan kedekatan seorang muslim dengan Rabb-nya akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi sikap tegar dan berani mengahadapi segala tantangan hidup. Secara kolektif, kaum muslimin adalah kaum yang tegar menghadapi gertakan dan ancaman lawan. Allah SWT mengabadikan sifat mereka dalam firman-Nya:
(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."(QS. Ali Imran 173).
Gertakan dan intimidasi manusia malah menambah keimanan kaum muslimin, yaitu semakin yakin dan membenarkan Islam, agama yang mereka peluk, semakin yakin akan datangnya pertolongan Allah kepada mereka, dan semakin menambah kekuatan, keberanian, dan kesiapan mereka dalam perjuangan di jalan Allah. Iman itulah yang memberikan kekuatan spiritual (al quwwah ar ruhiyah) kepada kaum muslimin sehingga berani mengahapi lawan betapapun besarnya pasukan musuh. Ketika kaum muslimin di Madinah dikepung pasukan sekutu dalam perang Ahzab, mereka tegar menghadapi serbuan dan kepungan itu dan telah mempersiapkannya dengan membuat pertahanan parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, khususnya di bagian utara yang datar. Allah SWT menggambarkan ketegaran mereka dalam firman-Nya:
Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (pasukan Ahzab) , mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.(QS. Al Ahzab 22).
Keimanan itulah yang membuat 3000 pasukan kaum muslimin berani menghadapi 200 ribu pasukan gabungan Rumawi di Mu’tah. Jelas sekali sifat keberanian itu dalam ucapan Abdullah bin Rawahah, salah seorang panglima perang kaum muslimin dalam perang Mu’tah itu: “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya yang hendak kalian hindari justru adalah mencari syahadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan. Menang atau mati syahid!” (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Juz III/428).

Jelas bahwa keberanian yang muncul dalam diri pasukan kaum muslimin, sekalipun harus menanggung resiko kematian, merupakan bekas dari keimanan mereka. Kuatnya keyakinan serta lurusnya sikap hidup dan motivasi diri mereka menghasilkan keberanian yang luar biasa. Mereka berperang bukan untuk menzalimi, membunuh, dan memusnahkan manusia. Bukan pula untuk merampas harta kekayaan dan tanah air bangsa lain serta memperbudak mereka. Tetapi mereka berperang untuk menjaga kemuliaan agama Allah SWT, Tuhan seluruh umat manusia. Mereka berperang untuk melindungi keberlangsungan dakwah Rasulullah saw., rasul untuk seluruh umat manusia, rahmat bagi seluruh alam. Dan mereka faham sekali bahwa perjuangan suci itu tidak pernah rugi. Maka wajarlah dari hati mereka tumbuh sifat perwira dan berani.
Keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran Islam itulah yang membuat Rasulullah saw. memiliki keberanian dan rasa percaya diri untuk menulis surat dan mengirim utusan kepada penguasa Rumawi, Kisra, dan penguasa dunia lainnya, mengajak mereka masuk ke dalam kemuliaan Islam. Lihatlah surat Rasulullah saw. kepada Heraklius, penguasa Rumawi: “Bismillahirrahmanirrahiim. Dari Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya kepada Heraklius, pembesar Rumawi. Semoga keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk (hidayah), amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan islam, masuk Islamlah. Engkau akan selamat. Allah akan memberikan kepadamu dua pahala. Namun jika engkau menolak, maka engkau harus menanggung dosa rakyatmu (orang-orang yarisyiyin). Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"(HR.Bukhari).
Sebelum terjadinya pertempuran dalam perang Qadisiyah tiga orang utusan kaum muslimin bertemu dengan Panglima Rustum, Panglima negara Persia. Rustum bertanya kepada mereka: “Apa yang membuat kalian datang ke sini?” Utusan kaum muslimin itu menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja –yang ingin—dari perbudakan manusia agar menghamba kepada Allah Yang Esa, dan dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan daripada penyimpangan semua agama (din) kepada keadilan Islam. Maka Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa din-Nya, kepada seluruh makhluq-Nya. Maka siapa saja yang menerima din ini dari kami, akan kami terima dirinya dan kami akan kembali daripadanya, dan kami akan meninggalkan dia dengan tanah airnya. Akan tetapi, siapa yang menolak akan kami perangi sampai kami masuk surga atau mendapat kemenangan”.
Dengan kejelasan visi dan misi hidup itulah kaum muslimin memiliki sifat keberanian menghadapi segala macam bangsa demi menyampaikan Islam kepada mereka. Keberanian mereka tidak dalam kerangka anarkis, tapi senantiasa disertai kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi. Diriwayatkan bahwa dalam perang Khandaq (Ahzab) ada seornag jagoan Quraisy menantang duel kepada pasukan kaum muslimin. Ali minta izin Rasulullah saw. untuk melayani. Beliau mencegahnya seraya berkata: “Duduklah kamu sebaba orang itu adalah Amru bin Abdud”. Setelah meminta izin tiga kali barulah Rasulullah saw. mengizinkan Ali berduel melawan Amru. Setelah melihat yang datang Ali, Amru mengatakan: “Datangkan seorang yang lebih tua, aku tak tega menumpahkan darahmu”. Tapi Ali menjawab: “Sebaliknya aku tega menumpahkan darahmu”. Mendengar itu Amru turun dari kudanya dan langsung memukulkan pedangnya ke Ali hingga memecahkan perisainya dan ia terluka di kepala. Ali membalas pukulan dengan pedangnya hingga Amru mati terbelah. Kaum muslimin pun bertakbir. Setelah itu Ali menghadap Rasulullah saw. Saat itu Umar bertanya: “Mengapa baju besinya tidak anda rampas, baju besinya bagus sekali?”. Ali menjawab: “Ketika Amru kupukul, auratnya terbuka sehingga aku malu melihatnya dan aku malu merampasnya”. (lihat Al Bidayah wan Nihayah, Juz 4/106). Dalam perang Uhud Rasulullah saw. pernah memberikan pedang beliau kepada Abu Dujanah dengan pesan agar digunakan sesuai dengan haknya. Maka Abu Dujanah menggunakan pedang itu untuk menghantam setiap musuh di hadapannya. Pedang itulah yang merobohkan seorang Quraisy yang suka mencincang kaum muslimin. Dan pedang itulah yang hampir membabat kepala Hindun bin Utbah, istri Abu Sufyan. Sabetan pedang itu diurungkan oleh Abu Dujanah setelah diketahui bahwa sasarannya adalah wanita” (Al Bidayah, Juz 4/16).
Kekuatan iman, keberanian, disiplin, dan moralitas yang tinggilah yang membuat pasukan kaum muslimin menjadi terkenal sebagai pasukan tak terkalahkan. Kaisar Heraclius yang merasa keheranan pasukannya yang besar dipukul mundur oleh kaum muslimin bertanya kepada para pembesarnya: “Celakalah kalian, kabarkanlah kepadaku tentang mereka (kaum muslimin) yang memerangi kalian itu, bukankah mereka itu manusia seperti kalian? Mereka menjawab: Benar. Kaisar berkata lagi: Mana yang lebih banyak, jumlah kalian ataukan jumlah mereka? Mereka menjawab: Jumlah kami lebih banyak di seluruh medan tempur. Lalu Kaisar bertanya: Lalu bagaimana kalian bisa kalah? Maka seorang tua dari kalangan pembesar mereka menjawab: Karena sesungguhnya mereka (pasukan Islam) itu mengerjakan sholat di waktu malam, berpuasa di siang hari, dan mereka menepati janji, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan saling membagi di antara mereka (tidak saling mementingkan diri). Sedangkan kita kalah karena sesungguhnya kita gemar minum minuman keras, berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, gampang marah, zalim, memerintah dengan kekerasan (represif), mencegah dari apa yang Allah ridlai serta berbuat kerusakan di muka bumi. Maka Kaisar pun berkata: “Engkau membuatku percaya—bahwa kita memang pantas untuk kalah” (lihat Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam, hal 44).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Kaisar Heraklius pernah bertanya kepada salah seorang prajurit Rumawi yang pernah ditawan oleh kaum muslimin: “Ceritakanlah padaku tentang mereka (pasukan Islam)” Maka prajurit itu menjawab: “Diwaktu siang mereka adalah pasukan berkuda yang hebat, dan di malam hari mereka menjadi pendeta. Mereka tidak pernah makan dari orang-orang tanggungan mereka (kafir dzimmi) melainkan dengan membayar. Mereka tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan membawa kesejahteraan, mereka selalu berdiri dengan mantap menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai mereka datang di hadapan orang itu”. Maka Kaisar berkata: “Sesungguhnya engkau telah meyakinkan aku bahwa mereka akan merebut dan menguasai tempat berpijak dua telapak kakiku”.
Dengan meneladani sifat keberanian dan percaya diri kaum muslimin terdahulu itulah kaum muslimin hari ini akan menang!

like dong di fb

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Wassalam Wr. Wb...